Lima Tekanan yang Sering Dialami Hakim


Ada lima bentuk tekanan yang paling sering dialami hakim-hakim di Indonesia dilihat dari asal muasalnya. Kelima bentuk tadi adalah tekanan dari penguasa (politik), atasan langsung, masyarakat melalui demo, tekanan dari pihak yang berperkara, dan dari dalam diri sang hakim.

 

Lima bentuk tekanan itu disampaikan Lintong Oloan Siahaan, pensiunan hakim Pengadilan Tata Usaha Negara yang kini menjadi pengajar di beberapa perguruan tinggi. Berdasarkan pengalamannya menjadi hakim selama puluhan tahun, Lintong mengaku tekanan dari atasan dan dari pihak yang berperkara paling dominan.

 

Lintong termasuk hakim yang pernah mengalami salah satu tekanan tersebut. Berbicara dalam seminar mengenai kode etik hakim di kampus Universitas Indonesia Depok, Senin (14/11), Lintong mengakui pernah ditekan petinggi Mahkamah Agung dan Kementerian Kehakiman agar memenangkan salah satu  pihak.

 

“Ketua MA dan Menteri Kehakiman mengintervensi supaya saya memenangkan perkara tertentu,” kata pengajar Praktik Peradilan Tata Usaha Negara ini. Namun Lintong tak menjelaskan dalam perkara apa dia diintervensi.

 

Hakim-hakim di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) acapkali mendapat tekanan dari penguasa karena objek yang ditangani umumnya adalah keputusan pejabat negara. Tekanan dari penguasa politik bisa langsung, atau melalui pimpinan si hakim.  Jika atasan langsung si hakim yang menekan, diakui Lintong, sering lebih mengkhawatirkan. Yang lazim adalah dimutasi ke tempat yang jauh. “Apalagi di era otoriter,” ujarnya.

 

Jika pada era otoriter, tekanan banyak datang dari penguasa dan atasan si hakim, lain halnya di era reformasi. Kini, tekanan dari masyarakat semakin sering terjadi melalui demonstrasi atau beramai-ramai mendatangi pengadilan. Dalam beberapa kasus, massa sampai mengancam hakim. Bahkan ada gedung pengadilan yang dibakar. Kedatangan massa secara bergerombol, malah sampai memadati ruang sidang, dinilai Lintong banyak mempengaruhi. “Itu juga tekanan agar hakim memutus perkara sesuai selera mereka,” tandas penulis buku “Jalannya Peradilan Prancis Lebih Cepat Dari Peradilan Kita” (1981).

 

Peneliti Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI), M Hendra Setiawan, mengatakan berbagai penelitian dan survei menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pengadilan, termasuk hakim, belum sepenuhnya pulih. Meskipun demikian, Hendra mengingatkan agar konsep hakim sebagai benteng terakhir tidak diganggu gugat. “Hakim sebagai benteng terakhir peradilan harus tetap dipertahankan,” ujarnya.

 

Kebutuhan ekonomi

Tekanan yang tak kalah susah melawannya datang dari diri sendiri. Seorang hakim mempunyai kebutuhan-kebutuhan ekonomi. Bisa lantaran kebutuhan diri, atau karena permintaan anggota keluarga dan sahabat.

 

Kebutuhan ekonomi pribadi saling berkaitan dengan godaan dari pihak yang berperkara. Dalam kasus hakim M Asnun, hakim Syarifuddin, dan hakim adhoc Imas Dianasari, ternyata godaan datang dari pihak yang berperkara. Godaan itu makin terasa jika hakim membanding-bandingkan gajinya dengan pejabat negara atau pegawai di tempat lain seperti Bank Indonesia, dan anggota DPR.

 

Tekanan sebenarnya bisa dilawan atau dihindari jika hakim tetap berpegangan pada kode etik dan kode perilaku hakim. Kode etik perlu karena ketika hukum dihadapkan pada kasus, seringkali hukumnya tidak lengkap. Hakimlah yang dibebani tugas menemukan hukum. Dalam penemuan hukum tersebut hakim bersifat merdeka, tak boleh diintervensi kekuasaan manapun.

 

Hakim oleh Undang-Undang diberi wewenang menggali hukum yang hidup dalam masyarakat. Dalam menggali hukum itulah, kata Lintong, hakim bisa melantur. “Hakim harus dijaga oleh kode etik agar tidak melantur seenaknya saat menemukan hukum yang tidak tertulis,” tegas mantan Ketua Pengadilan Tinggi TUN Medan itu.

(di kutip dari situs Hukum Online)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s