Hari Raya Idul Fitri,Kecamatan Pulau Kur Diwarnai aksi kriminal


Tual.SDL.05/09/2011.Kecamatan Pulau Pulau Kur kembali digemparkan oleh insiden berdarah yang terjadi pada suasana hari raya idul fitri.
Ketenangan warga masyarakat Kec Pulau Kur kembali terusik ketika di Desa Kanara,sabtu,tgl 03 september 2011 terjadi insiden tersebut.menurut Kasatserse Polres Maluku Tenggara,AKP.Umar Kalean diMapolres Maluku Tenggara,kepada SDL ,menyebutkan bahwa insiden berdarah ini adalah pertikaian antara dua orang pria warga desaKanara,kec Pulau Kur,yakni Taha Tatroman(49 th) dengan umar Tatroman,keduanya diketahui berdomisili di desa Kanara Kec.P.Kur.
Menurut AKP.Kalean,bentrok berdarah ini berlatar belakang persoalan sengketa tanah.akibat bentrok berdarah ini,Umar tatroman akhirnya meninggal dunia ditempat akibat ditusuk dengan sebilah pisau oleh taha tatroman pada bagian punggung dan dadanya,diduga Umar Tatroman kehabisan darah akibat luka tusukan pisau yang menghujam di bagian dadanya dan mengenai jantungnya.
Ketika ditanya tentang detil kejadian ini,AKP Kalean mengaku hingga saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk kemudian meningkatkan ke tahap penyidikan,”untuk detailnya masih kita selidiki,untuk kemudian dinaikan ke tahap penyidikan”.
Akibat aksi berdarah ini,Taha tatroman terpaksa harus meringkuk di tahanan mapolres Maluku Tenggara,sementara mayat almarhum Umar Tatroman kini sudah di kebumikan di desa Kanara.kec P.kur.
Sementara di hari sebelumnya,yakni tgl 30/september 2011 malam ,telah terjadi pula aksi penganiayaan di desa Yapas.Kec P.Kur.Penganiayaan ini terjadi pada diri seorang pemuda asal dusun Finualean,Masri Letsoin.
Masri Letsoin,saat dihubungi SDl di RSUD menjelaskan bahwa dirinya,telah dianiaya oleh 5 orang pemuda asal desa Yapas.”Saat itu (tgl 03/S/2011) pkl.04.00 saya mengantar zakat pitrah ke Guru mengaji saya diyapas,lantas sepulangnya saya di todong dengan sebilah bambu runcing oleh seorang pemuda bernama Dus,karena tersinggung,makanya saya menegurnya,namun akibat teguran saya itu,datanglah 5 orang pemuda lainya dan mengeroyok saya tepat di depan SD Kilsoin,Desa Kanara”ungkapnya.
Kepada SDL,Masri Letsoin mengaku mengenal kelima pemuda yang mengeroyoknya,mereka diantaranya adalah Arfat AL KATIRI,Guzali Letsoin,hayat Mafinanik,ucu Ohoirenan,dan Polhair Tiflen.
Masri Letsoin yang memang mepunyai kondisi cacat fisik tak mampu melawan lebih banyak atas keroyokan memalukan ini,akhirnya ia terpaksa menderita sejumlah luka lebam ditubuhnya dan rasa sakit di bagian rusuknya.
Para pelaku pengeroyokan yang terjadi tepat dengan kejadian sejarah G30/S ini ,kini sudah ditahan oleh aparat Kepolisian Polres Maluku Tenggara.Didapati juga informasi dari sebuah sumber yang enggan menyebutkan namanya,bahwa kapolsek P.Kur.AIPTU Hanibal sempat disandra oleh sejumlah warga dalam insiden ini,namun hal ini ketika dikonfirmasikan kepada Kapolres Maluku Tenggara,AKBP Suranta Pinem tentang anggotanya yang telah disandra warga,Pinem membantah hal ini,”Tidak benar,tidak ada anggota saya yang disandera,apa lagi terluka akibat sabetan senjata tajam,lihat saja Kapolsek Kur baik baik saja”katanya.
Pasca kejadian ini,Kapolres Maluku Tenggara AKBP Suranta Pinem mengaku kondisi keamanan di Kecamatan P.Kur sudah terkendali,”kami sudah mendapat jaminan dari para tetua adat dan tokoh masayarakat di Kur,bahwa kondisi saat ini sudah kondusif,namun terlepas dari pada itu,kami sudah menempatkan anggota Polres untuk membantu Polsek kec Kur untuk menjaga kondisi yang sudah kondusif ini”paparnya.
Terkait hal ini,Koordinator Wilayah Kec P.Kur,Azis Fidmatan S.Sos.M.Si saat dijumpai SDL dikantor Penghubung Kecamatan Pulau Kur,di Taar,mengaku tidak mengatahui seluk beluk kejadian ini,sebab saat kejadian dirinya tidak ada ditempat tugasnya,”saya tidak tau persis kejadian ini karena saya tidak di Kur,memang sebelumnya ada informasi saat saya di hary pu rumah bahwa di Kur ada kacau,sampai Kapolsek disandera warga,namun info ini belum jelas”katanya.”Nanti setelah saya ke Kur dengan Fery baru jelas semuanya”imbuhnya.
Fidmatan mengaku bahwa saat ini kendala mendasar di Kac P Kur adalah perhubungan dan sarana komunikasi,sebab karena kendala tersebut ia mengaku susah mengakses informasi di tempat tugasnya.”kita masih kesulitan sarana komunikasi,jadi ketika saya tidak ditempat Tugas,saya kesulitan mengakses semua informasi dari kec.Kur”imbuhnya.
Salahkan televisi
Dalam kesempatan yang sama,Fidmatan mengaku sangat menyesalkan kejadian insiden berdarah di Kur,menurutnya ini adalah karena efek negatif dari laju perkembangan informasi,”Ini efek dari laju perkembangan informasi,sekarang di Kur kan banyak televisi parabola,jadi masyarakat terpengaruh dengan berbagai perkembangan informasi,akibatnya rasa kekerabatan antar warga HA DELA HA itu sudah tidak ada”sesalnya.Akhirnya muncul aksi anarkhisme,katanya.
“korban di yapas itukan cacat,ya sudahlah kita serahkan diorang tua tua untuk atur saja,jadi tidak usah anarkhis,tapi karena ada yang memprovokasi akhirnya ya seperti itu”imbuhnya.
Fidmatan menghimbau agar warga kec.P Kur tidak lagi mengedepankan aksi anarkhis untuk menyelesaikan masalah,sebab pada akhirnya yang merasakan kerugian adalah para pelaku anarkhis itu sendiri,tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s