Maluku Tenggara Dalam Kepungan Kasus


Kabupaten Maluku Tenggara dibawah pimpinan Andre – Yunus nyaris menyedot perhatian publik sendiri dengan bermunculanya sejumlah kasus dugaan tindak pidana Korupsi yang ditengarai telah mengepung para petingginya,hal ini semakin menimbulkan berbagai spekulasi yang bermunculan ditengah tengah masyarakat,separah inikah moral pejabatnya ataukah memang ada kekuatan lain yang kini sedang berada disuatu tempat dan mengintai segala titik lemah kinerja penyelanggara pemerintahan kabupaten Maluku Tenggara.Dan bersiap sewaktu waktu untuk melakukan counter attack.
Bukan salah bunda mengandung,jika terjadi karut marut social dan politik,tapi yang terjadi hari ini dikabupaten yang tertua kedua dimaluku ini memang tajam tercium ketika terjadi perbedaan pandangan antar penyelenggara Maluku Tenggara pada saat masa pemerintahan Herman adrianus koedoeboen.
Penonaktifan sejumlah pejabat birokrasi serta policy tak pandang bulu yang dilakukan oleh Bupati Maluku Tenggara pada masa itu menjadi pemicu awal terjadinya kekacauan ini.Akhirnya terciptalah sejumlah blok besar yang memisahkan beberapa pendukung besar politisi yang menjadi idola masyarakat.
Hi.Taher Hanubun dengan ribuan pendukung fanatiknya,MM Tamher juga dengan ribuan pendukung yang loyal,ditambah kekuatan baru yang lahir berdasarkan strategi politik Partai berlambang Kepala Banteng Marah,PDI Perjuangan,dengan mengetengahkan barisan pendukung Herman Adrianus Koedoeboen yang terlahir secara premature melalui sikap Politik PDI Perjuangan pada proses Pemilihan Kada Maluku Tenggara 2002.
Kala itu.energy masyarakat Maluku Tenggara benar benar terkuras habis dengan tarik ulur politik dan perang urat syaraf yang terjadi.bahkan nyaris 2 tahun lamanya masyarakat Maluku Tenggara terkotak kotak lantaran perbedaan sikap politik menuju lahirnya era reformasi di Maluku Tenggara yang terimbas dari gejolak reformasi dipusat Negara,Ibukota Jakarta.
Walhasilnya,nyawa rakyat tak berdosa menjadi korban,sejumlah rumah masyarakat hancur dirusak massa,serta sentiment antar pendukung yang meninggi tensinya sehingga nyaris memicu konflik horizontal antar warga masyarakat.
Tokoh tokoh politik pada masa itu seharusnya bertanggung jawab akibat semua kerugian yang ditanggung oleh masyarakat sebab ketidak mampuan para tokoh tokoh politik dalam mengendalikan emosi pendukungnya benar benar dibawah standar,bahkan nyaris terjadi sebuah pembiaran.
Hal ini berlanjut hingga aksi penyegelan jembatan USDEK (Undang undang Dasar Sementara dan Dekrit Presiden ) selama 1 bulan dengan cara pemancangan sasi sebagai aksi protes masyarakat terhadap DPRD Maluku Tenggara akibat tokoh yang mereka dukung sebagai Bupati Maluku Tenggara gagal meraih kemenangan akibat konspirasi para wakil rakyat Maluku Tenggara.
Hingga aksi ini melahirkan sebuah pengakuan secara politik Pemerintah Pusat melalui Men Politik dan keamanan RI,Susilo Bambang Y.bahwa Kota Tual akan dimekarkan menjadi daerah Otonom terlepas dari Maluku Tenggara.
Kembali kepada kepungan kasus di Pemkab Maluku Tenggara,semua karut marut ini merupakan bagian dari masa lalu Maluku Tenggara yang turut melahirkan kondisi kondisi baru selepas itu.
Saling menyerang dan menyudutkan antar kekuatan politik dan social yang sudah terbentuk itu ditengarai tetap eksis hingga masa Bupati Maluku Tenggara,Herman Koedoeboen.Bahkan sempat meruncing ketika ada upaya menagih janji dari masyarakat Kota Tual melalui elit politiknya kepada pemerintah Pusat untuk segera merealisasikan berdirinya Kota Tual sebagai Daerah otonom.gap besar terbentuk kembali antara kelompok Pro Pemekaran dan Kontra Pemekaran Kota Tual.
Tercatat sejumlah aksi terjadi antara kedua kelompok ini,mulai dari rapat rapat tak resmi ,saling terror melalui sarana Telepon seluler hingga kepada aksi benturan fisik.kerap terjadi.
Sementara di sisi lain pada waktu yang hampir bersamaan,terjadi gejolak dikalangan elit birokrasi Pemkab Maluku Tenggara karena adanya penonaktifan sejumlah pejabat birokrasi dari kursi jabatannya,diantaranya adalah kepala dinas Perhubungan,kepala dinas PU,pelantikan setda Maluku Tenggara dan beberapa lainya,ditambah lagi terjadi penumpukan jabatan terhadap 1 orang pejabat yang merangkap jabatan strategis.Semakin menimbulkan kecemburuan dikalangan elit birokrasi Malra,dan berekses pada gerakan “dibawah tanah” yang melakukan persiapan untuk menjegal Bupati kala itu pada Pilkada berikutnya,sekaligus mengambil alih kepemimpinan serta semua kendali Pemerintahan Malra.
Didukung dengan keadaan masyarakat yang bingung serta bimbang,serta keinginan akan sebuah perubahan Maluku Tenggara Baru,yakni era pemilihan secara langsung ,maka Anderias Rentanubun dan Yunus Seranng berhasil menang mutlak dalam pilkada 2008 atas pasangan kandidat lainya,termasuk kandidat incumbent.Dan Andre-Yunus berhasil mencatat nama keduanya sebagai Bupati –Wakil Bupati Maluku Tenggara Pertama yang dipilih Langsung Oleh Rakyat.
Dan pada saat yang bersamaan,Kota Tual hasil Pemekaran juga membubuhkan catatanya kepada pasangan Hi.MM Tamher-Adam Rahayaan sebagai Walikota-Wakil Walikota pertama Kota Tual sekaligus Kepala Daerah pertama Kota Tual yang langsung dipilih oleh Rakyat.
Kini,dengan berakhirnya era kepemimpinan Bupati Maluku Tenggara ,Herman Koedoeboen yang tumbang dalam kompetisi Pilkada Malra 2008,Rakyat Maluku Tenggara dan Kota Tual beradapada masa baru yakni masa dimana rakyat memegang kedaulatan secara penuh dalam proses politik dan penyelenggaraan Negara.
Akan tetapi,kini rakyat kembali nyaris kecewa serta tersita kembali perhatianya ketika para petinggi kedua daerah ini dibelakang hari justru terlibat dalam parktek dugaan Tindak Pidana Korupsi.Kota Tual dengan perkara dugaan Korupsi dana asuransi 35anggota DPRD Maluku Tenggara periode 2002-2003,kab Maluku Tenggara dengan dugaan korupsi Proyek APBD nya.
Yang oleh karenanya,maka kini belasan mantan anggota DPRD Malra (termasuk Walikota –wakil walikota Tual) terjerat hukum ,serta Bupati Malra,Anderias Rentanubun menjadi salah satu pihak yang dibidik oleh aparat Kejaksaan Tinggi Maluku,bahkan Sekertaris daerah Maluku Tenggara,P.Beruatwarin juga telah ditetapkan sebagi tersangka dalam perkara dugaan Korupsi Pembangunan Kantor Dinas perikanan & kelautan Maluku Tenggara bersama dengan Pihak ketiga yang mengerjakan proyek dimaksud,yakni Pengusaha Levinus Tunggal alias A leng.
Rakyat kembali pusing,para pendukung dan simpatisan elit birokrasi dan politik bereaksi keras,sehingga kantor Kejaksaan Negeri Tual terpaksa harus menerima sejumlah aksi demonstrasi massa,bahkan sempat disegel selama 2×24 jam oleh massa simpatisan dan pendukung tokoh elit politik dan birokrasi yang kini terjerat hukum.
Kondisi ini sebenarnya sangat sulit bagi rakyat,dimana rakyat dituntut untuk berpikir jenih serta pandai memilah antara yang baik dan buruk.Sebab tentunya fenomena yang terjadi ada hubunganya dengan upaya penegakan hukum yang diamanatkan oleh UU ,serta peraturan pemerintah lainya.yang bertujuan melakukan upaya pemberantasan Tindak pidana Korupsi.
Tapi,Hakikatnya,Rakyat kembali terhempas dalam kekecewaan,bahwa rakyat kembali tertipu dengan kenyataan yang dilakukan oleh pemimpin mereka.Setelah sebelumnya sempat ada terbersit secercah harapan akan perubahan yang baik,kesejahteraan yang meningkat serta terjawab kendala ketersiapan lapangan kerja.
Tinggal kini,semua pihak hanya bisa berharap sekiranya semua carut marut ini segera berakhir,segala dendam kesumat segera padam,dan segala kepentingan segera usai,dan yang hanya tinggal adalah pemikiran positif serta energy yang besar untuk memperhatikan kepentingan rakyat,untuk kemajuan rakyat Kota Tual dan Maluku Tenggara,sehingga tak ada pemubaziran anggaran Negara hanya untuk SPPD dan Proyek Bodong.
Bahwa saatnya Rakyat berdaulat kembali secara penuh,merasuk dalam sendi dan sumsum Pemerintahan dan politik,Tak ada lagi Korban rakyat Mati karena pertikaian elit elitnya,serta tak ada lagi aksi penunggangan orang kecil yang hanya diupahi Nasi bungkus namun harus ditukar dengan bertaruh nyawa demi kepentingan petinggi.
Bahwa cukup sudah kiranya leluhur daerah ini menangis melihat ulah anak cucunya,yang menumpahkan darah dengan sia sia,maka kiranya jangan tunggu hingga Murka-Nya mendatangi kita,segera menahan diri serta berpikir jernih untuk hidup lebih berarti untuk anak cucu. (copy right SDL)

One thought on “Maluku Tenggara Dalam Kepungan Kasus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s