Benarkah Demokrasi Kita saat ini (masih) bersendikan Pancasila?


Bagai Negara dalam bayang bayang,Indonesia kini masih mencari bentuknya yang pas dan sesuai dengan jiwa kepribadian bangsa dan adat ketimuran.Seiring bergulirnya matahari,maka bayang bayang dapat saja memanjang dan juga memendek.Demikianlah sebenarnya system demokrasi kita saat ini,sehingga sedikit sedikit para politisi baik yang duduk dipemerintahan dan di gedung rakyat mencari bentuk yang tepat untuk dipakai menjadi acuan dalam melakukan setiap langkah politik.

Contoh nyata,bahwa jika merujuk pada Pancasila maka sila ke-4 adalah roh dari system demokrasi kita,”Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Unsur kerakyatan = merakyat,dari rakyat,dan akan kembali kepada rakyat,ternyata unsur ini justru masih belum terpenuhi.bagaimana kita bisa mengatakan bahwa para wakil kita di dewan perwakilan sudah merakyat ? apalagi bekerja untuk rakyat ?,jika yang terjadi pada keseharianya ternyata mereka masih terlalu sibuk dengan urusan study banding dan study keilmuan yang hingga kini masih belum terlihat nyata hasil dari study banding dan study keilmuan tersebut,walaupun pada kenyataanya telah menyedot 20% anggaran pendapatan Negara dan anggaran pendapatan daerah.bukan menjadi sebuah rahasia lagi jika para bapak bapak wakil rakyat mempunyai kebiasaan buruk suka sekali dengan “peliharaan”,dan pada kenyataanya “peliharaan” inilah yang dominan menikmati anggaran untuk study banding dan study keilmuan ini.sehingga pada dasarnya,para wakil rakyat ini memang berasal dari rakyat namun pada kenyataanya belum bisa  menjadi merakyat dan yang lebih ironi lagi ialah ternyata rakyat selalu tersakiti hati lantaran ulah”nakal” para wakilnya diparlemen.

Unsur “yang dipimpin oleh hikmat dalam kebijaksanaan” = apa yang hikmat jika dalam rata rata sidang paripurna,para wakil kita diparlemen ternyata masih belum mengerti etika keinteletualitas tentang etika sidang dan rapat istimewa.Para wakil kita ini masih suka saling lempar botol air mineral,masih suka menggedor meja ,masih suka memainkan HP pada saat sidang,atau yang lebih gila lagi ada yang nekad menonton video parno pada saat mengikuti sidang.hal ini menunjukan bahwa para wakil kita masih belum bisa berlaku hikmat,apalagi bijaksana,tentunya pasti masih jauh dari gapaian tangan politisi.

Hal ini tentunya semkin menguatkan anggapan bahwa pada dasarnya system demokrasi pancasila masih menjadi sebuah retorika yang tak lebih dari slogan kosong,karena sikap para pelaku politik dan pemerintahan masih belum mengerti benar dengan apa yang mereka teriakan setiap harinya.

Unsur “Dalam permusyawaratan perwakilan” =  seharusnya jika unsur unsur sebelumnya sudah terpenuhi maka seharusnya pula mewujudkan Permusyawaratan Dalam Perwakilan menjadi sesuatu hal yang tidak terlalu sukar,sebab permusyawaratan dalam perwakilan pada hakekatnya adalah hasil gemilang dari kondisi kebatinan kaum terkemuka yang tampil menjadi putra terbaik pilihan rakyat,sehingga melalui permusyawaratan dan perwakilan maka Cita-cita keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan menjadi sebatas mimpi disiang hari bolong. Namun sayangnya,hingga detik ini.sekelumit prinsip prinsip dasar demokrasi bangsa inimasih belum terpenuhi atau mungkin saja rakyat kita masih berada dalam kesalahan dalam menjatuhkan pilihan kepada orang yang bakal mewakilinya untuk mengatur bangsa ini.

Atau bisa saja semangat tempur para wakil kita sudah luntur dengan bejibunya fasilitas lux dan serba no.1,atau mungkin saja para wakil kita ini sudah merasa puas dan terlena ketika duduk dikursi empuk dengan segala kemudahanya,atau mungkin saja para wakil kita ini sudah mabuk kekuasaan sehingga mereka ini terlalu sibuk mengurusi perut dan yang berada diseputaran perut,sementara kesengsaraan rakyat dengan kondisi ekonomi yang sulit masih tertatih tatih mengayunkan langkahnya meniti kesukaran hidup.

Jika coba kita berhitung,berapa persenkah anggaran yang tersalur untuk rakyat dibandingkan anggaran yang tersalur kepada kaum pengusaha berperut buncit dan kaum politisi korup.

Jika dihitung hitung maka,kurang dari 20% anggaran untuk rakyat,sementara sebagian besar anggaran habis untuk membangun gedung kesombongan dan kecongkakan,serta habis untuk biaya pergi pulang pejabat dan anggota dewan,semntara anggaran untuk pemberdayaan masyarakat masih sangat kecil.tidak percaya ? cari saja unit usaha rakyat mana yang sudah terbantu oleh pemerintah ?

Investor luar ketakutan untuk menanam investasi lantaran kawatir jika akan diakali oleh aksi kongsi politisi busuk dan pengusaha rakus.

Minimnya peredaran uang,menurunya omset dagangan dan daya beli masyarakat sementara dilain pihak para pemegang kunci kran keuangan sedang asyik mansyuk pergi pulang menghabiskan SPPD seakan akan tak pernah bosanya mengahamburkan anggaran milik rakyat.

Jika sudah demikian,mau apalagi ?,selamat menikmati selama Tuhan masih memberikan keluasan,namun kelak. Jika sudah tiba waktunya maka mau atau tidak mau ,pasti akan datang masanya untuk mempertanggung jawabkan apa apa yang sudah dibuat dan apa apa yang sudah ditanam,sebab ada saatnya tanaman tersebut bakal berbuah,dan tentunya sang penanamnya sendirilah yang bakal merasakan segala akibat dari hasil perbuatan tanganya sendiri.Insya Allah.(copy right SDL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s