Kode Hukum Masyarakat Kepulaun Kei, Dos Ten en Fit (7 Dosa Induk)


From the house of atbar,Ohoitel vilage Kei Islang

+  500 – 600 tahun lalu Jauh sebelum ada norma-norma hukum yang baku,masyarakat kai sudah mengenal tata aturan dan norma etika yang timbul akibat pemikiran para cendekiawan kai pada masa itu.tata aturan norma tersebut kendati masih bersifat mendasar dan sederhana,namun pada dasarnya justru menunjukan bahwa tingkat pemikiran para cendekia penduduk pulau kai pada jaman itu berada pada sebuah perdaban yang tinggi secara social kemasyarakatan.

Hal ini menurut sumber tulisan ini dibuat,Hi. M Nur Atbar,(Dari Mata rumah Atbar/House of Atbar ,desa ohoitel.Pulau Dulah) bahwa aturan social dan norma yang mengatur tentang adab kesopanan dan hubungan antara sesama manusia,ternyata sudah terbentuk dan telah mengakar nadi dalam tata social penduduk pulau Kai,bahkan disinyalir jauh sebelum hukum hawear Balwirin,Sesa Sor Fit dan hukum Nev-nev yang terhimpun dalam Hukum Adat Larvul Ngabal dibentuk dan dicetuskan,maka masyarakat Kai/Evav sudah mengenal norma hukum yang oleh para tetua dan cendekia Kai/Evav disebut dengan Hukum Dos Teen en Fit (Tujuh Dosa Induk).

Hi.M Nur Atbar,memaparkan bahwa hukum Dos teen en Fit adalah norma yang dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah norma aturan social yang jika dilanggar maka akan menghasilkan dosa lainya,atau katakanlah dosa turunanya.

Yang termasuk dalam category Dos Ten en Fit (7 Dosa Induk ) adalah :

1.Inan Siaan                       : Sifat Malas

2.Vap Ba Nau         : Sifat Rakus

3.Hamurin              : Banyak Tingkah suka membuat ulah.

4.Om Liik Umat Rir a fa,om n ail Wa ed   : menemukan barang milik orang lain,namun enggan dan atau tidak berniat untuk mengembalikan kepada yang berhak.

5.Om taha kuk umat rir wel mat                : Tidak mau melunasi hutang/pinjaman,kendati sudah punya uang,atau barang.

6.Om ba umat rir maren,om dat afa wa ed            : Datang di kegiatan gotong-royong keluarga,tetangga namun hanya bertujuan untuk sekedar menyantap hidangan makan namun tidak turut dalam kegiatan gotong royong.

7.Om kab Wasil                                          : Pembohong Besar.

7 dosa induk,menurut masyarakat Kai/evav adalah sumber dari berbagai dosa ataupun tindak kejahatan,tindak criminal dan pelanggaran susila lainya.

Hi.Muhammad  Nur Atbar menjelaskan juga bahwa dengan arus perubahan serta globalisasi yang kini sedang melanda setiap sisi sosial masyarakat,disinyalir telah pula menggerus nilai-nilai esensial masyarakat kai/evav serta norma social yang oleh para leluhur masyarakat evav berhasil dicetuskan dan dipercaya sebagai aturan moral yang bertujuan untuk menjaga hak-hak asasi manusia serta hak-hak keperdataan lainya.

Kode Dos Ten En fit ini,sesungguhnya semakin menguatkan penilaian tentang majunya peradaban social dan cara hidup masyarakat adat kai/evav semenjak ratusan tahun lalu,sebab terbukti secara empiris bahwa sekecil apapun tindak-tanduk manusia yang dianggap adalah tabiat buruk serta mengancam hak-hak orang lain justru telah ditetapkan sebagai aturan yang tidak boleh dilanggar.

Pandangan Hi.Muhammad Nur Atbar,Tentang bergesernya nilai moral masyarakat kepulauan Kei pada dasarnya justru dimulai dari satuan terkecil masyarakat ,yakni keluarga kecil disetiap rumah.Bahwa kecenderungan setiap orang tua yang melakukan pembiaran terhadap anak anaknya serta tidak melakukan pendidikan secara serius dan berkesinambungan dalam kehidupan keluarga dan diluar bangku sekolah sesungguhnya menjadi penyebab bergesernya nilai nilai moral masyarakat kepulauan Kei.

Dahulu,pada jamanya,Hi.Muhammad Nur Atbar menceritakan tentang kedisplinan para orang tua tua Kei dalam memberikan pendidikan terhadap anak anak mereka.”Jaman saya dahulu masih bersekolah (+    65 tahun lalu),para orang tua menyediakan bagi anak anaknya yang bersekolah meja dan bangku khusus belajar,dan selalu membekali nasehat nasehat dan petuah dengan tiada hentinya kepada anak anaknya,selain jaman kehidupan yang masih jauh dari pengaruh budaya luar,kaum masyarakat kepulauan Kei mempercayai bahwa dengan pendidikan yang baik dan cukup akan menghasilkan manusia yang baik pula,yakni baik secara moral serta baik secara intelektual”katanya.

(*Hi.Muhammad Nur Atbar,diketahui adalah salah satu tokoh yang mempunyai secara adat terhadap kalangan masyarakat Desa Ohoitel.karena selain memegang posisi penting sebagai orang yang dituakan dalam Mata Rumah Atbar/house Of Atbar,Hi.Muhammad Nur Atbar juga dikenali sangat bijaksana serta mempunyai reputasi yang baik dalam pergaulan masyarakat antar Marga/Fam,antar Desa serta antar keluarga besarnya,diwilayah Pulau Dulah dan Pulau kei kecil.**Hi.Muhammad Atbar adalah pensiunan guru).

Sehingga dengan penilaian ini,pada dasarnya perlu ada sebuah langkah yang agresif dari berbagai pihak,diantaranya adalah Pemerintah Daerah Kota Tual,perangkat Desa,Tokoh masyarakat/Tokoh agama,serta setiap orang tua dari setiap anak anak Kei untuk melakukan perubahan dalam pola pendidikan yang terlalu kendor serta tidak teliti dalam melakukan pendidikan terhadap anak anak.

Selain itu,anak anak kei yang baru tumbuh dan berkembang pada tahap remaja,seharusnya diberi ruang yang cukup serta positif bagi penyaluran gelora jiwa mereka dalam tahap puberitas,sehingga tidak ada salah salur yang terjadi atau salah jalan yang dialami oleh para remaja dalam tahap puberitasnya.

Akibat Dari mengendurnya ketaatan masyarakat Kei terhadap Hukum Dos Teen En Fit,Hukum Hawear balwirin,Hukum Nev nev dan Hukum Larwul Ngabal,akibatnya pada periode saat ini,banyak terjadi pelanggaran pelanggaran hukum adat tersebut ,pelanggaran tersebut adalah Pencurian, Pemerkosaan,Pembunuhan,Perampasan hak hak orang,serta Perkelahian massal.

Sehingga pencitraan kepulauan Kei sebagai wilayah yang masih kental dengan norma adat,semakin luntur dan hilang,dan walaupun ada maka hal itu tidak lebih dari Simbol symbol adat saja yang kekeramatanya nyaris punah.

Padahal upaya untuk mempertahankan eksistensi nilai nilai adat serta norma norma yang terkandung didalamnya sudah dilakukan oleh pihak Pemerintah Kota Tual melalui penetapan Kota Tual sebagai kota beradat,namun penetapan atau pencanangan Kota Tual sebagai Kota beradat tersebut masih dalam tahap tahap wacana dan langkah langkah yang diambil oleh Pemerintah masih dalam bentuk pembangunan adat secara fisik,sebagai missal adalah pembuatan sejumlah monument disejumlah titik pada ruas jalan Un-Tual-BTN dan Ohoitel.dan mengganti tulisan /relief dinding “Tual Kota Mutiara “menjadi “Tual Kota Beradat”.  Sementara langkah langkah konkrit dalam upaya membangun karakter anak anak kepulauan Kei untuk kembali pada norma norma adat yang esensi masih diserahkan pada setiap orang tua dari anak anak dikepulauan Kei.(bersambung)

(*Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil interview dengan Hi.Muhammad Nur Atbar,tokoh masyarakat Desa Ohoitel.Pulau Dulah-Utan Tel timur.kepulauan Kei-Maluku.Indonesia*)

One thought on “Kode Hukum Masyarakat Kepulaun Kei, Dos Ten en Fit (7 Dosa Induk)

  1. ternyata masyarakat Kei memang sudah memiliki tatanan adat dan hukum dari dulu ya…..,mudah mudahan generasi muda Kei saat ini mampu meneruskan nilai nilai luhur pendahulu mereka.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s