Tahun 2011,Era kebangkitan Masyarakat Pulau-Pulau


Kota Tual pasca dimekarkan menjadi daerah otonom terpisah dari Kabupaten Maluku Tenggara,berdasarkan UU no.31 thn 2007,ditengarai telah berdampak positif bagi kehidupan sosial dan politik masyarakat Kota Tual,terlebih masyarakat yang mendiami kepulauan Kur,Tayando dan Tam.

Ketiga komunitas kepulauan tersebut walau secara kebudayaan memiliki kemiripan dan keserupaan,terkecuali dari sisi bahasa daerah yang menjadi alat pemersatu komunitas masing masing,namun karena merasa senasib dan sepenanggungan sehingga komunitas ketiga masyarakat kepulauan tersebut terikat dalam sebuah ikatan perasaan yang bertumbuh kembang menjadi sebuah kode etik yang mempersatukan antara ketiga .

Dengan cakupan wilayah yang tergolong kecil dan jumlah penyebaran  penduduk yang masih terbatas,maka kesempatan yang sangat besar telah tersedia bagi ketiga komunitas masyarakat untuk membuktikan bahwa mereka juga adalah bagian dari wilayah NKRI yang mempunyai hak yang sama dengan Rakyat Republik Indonesia lainya dalam hal mengembangkan diri,mengekspresikan diri serta memacu untuk turut maju ,setelah beberapa decade sempat terpuruk dan terisolir dikarenakan ketidak mampuan Pemerintah Daerah Kab Maluku Tenggara dalam merealisasikan pemerataan pembangunan secara fisik maupun non fisik.

Era kota Tual Otonom,anak anak negeri Kur,Tayando dan Tam sudah mulai mengambil alih kendali sejumlah posisi vital dalam pemerintahan,social, politik dan ekonomi.Sejumlah nama anak anak ketiga negeri tersebut berhasil menorehkan catatan catatan penting dalam sejarah awal perjalanan Kota Tual,sebagai daerah otonom,sebut saja AH.Zein Rumles SH (tayando),AR.Letsoin S.Sos (tam),Abet tetlageni (Kur),L.Rahantan (tayando),Aziz fidmatan S.Sos.MSi (Kur),Lajania Madamar S.Sos (Kur) dengan Organisasi IKK (Ikatan Keluarga Kur),dll.

Nama nama ini belum termasuk sejumlah nama yang telah tersohor di Ibukota,seperti Praktisi Hukum,Sudiyono Akbar SH.,dan nama nama lainya,keberadaan mereka ini disinyalir mampu memicu gerakan moral masyarakat ketiga komunitas ini untuk mengejar ketertinggalan,disamping peran aktif tokoh tokoh masyarakat KTT,seperti Hary Sarkol dll.

Masyarakat pulau-pulau Tam,yang beberapa decade lalu masih dikenal dengan keberadaan mereka sebagai Urbanisator musiman ketika saat pelaksanaan proyek proyek fisik yang tergolong besar,kini telah beralih menjadi masyarakat yang ulet,trampil dan giat dalam mengembangkan potensi desa mereka,yakni dalam bidang budidaya rumput laut,saat ini diperkirakan hasil budi daya rumput laut dari Pulau Tam berkisar 75 Ton/bulan.Dengan kisaran ini maka dapat diprediksi pertumbuhan ekonomi yang saat ini terjadi di Pulau Tam,akibat hasil rumput laut ini.

Kondisi alam dan susahnya perhubungan lalulintas laut dalam musim musim tertentu disinyalir menjadi wahana menempa diri masyarakat ketiga kepulauan ini menjadi ulet dan giat dalam upaya memperbaiki taraf hidup mereka dalam pergaulan dengan komunitas lain di Kota Tual .

Ketiga Komunitas Pulau Pulau ini layak jika disebut dengan “Raksasa Tidur”,yang sekian puluh tahun terlelap dalam kegelapan globalisasi dan informasi,dikarenakan menjadi daerah yang terisolir,padahal dengan potensi alamnya yang masih belum terjamah tangan tangan dingin investor,sebenarnya ketiga komunitas ini dapat hidup sejahtera dan layak.Hasil Pala,kenari.Kopra (coconut oil),agaragar,Ikan dan potensi wisata bahari menjadikan ketiga daerah pulau pulau ini sebenarnya adalah daerah yang kaya dengan berbagi potensi.

Walau pada kenyataanya,Pemerintah Kota sendiri masih belum gencar melakukan pengembangan berbagai potensi tersebut,karena mungkin dengan umur pemerintahan yang masih seumur jagung ini,Pemerintah Kota Tual masih kontens pada pembangunan sarana dan prasarana infrastruktur jalan,perkantoran dan dermaga tambat labuh kapal.

Geliat mereka ini,ditahun 2011 sudah mulai tampak agresif dan ofensif,halmana sesungguhnya memberikan gambaran terang tentang masa depan anak anak negeri yang cerah,tentunya dengan sebuah syarat yakni “wajib Giat”.Giat bekerja,Giat belajar dan menerima perbedaan sebagi sebuah rahmat,Giat berusaha dan Giat mendekatkan diri kepada Sang Khalik,sebab tentunya curahan Rahmat-Nya tidak akan datang tanpa Usaha.Upaya dan Doa dari hamba-hamba-Nya yang mengingankan Perubahan.(copy right SDL).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s